Keep on shalawat

Do you wish to see Rasulullah on your dream? Keep on shalawat then start to follow his sunnah on your daily life. May Allah make it really true someday. Aameen.

get its direct bonuses

Increase your shalawat upon Rasulullah sallallahu alaihi wasallam so Allah and His angels will make it multiplied for you.

Allahumma ihdina assiratal mustaqeem ya allah

Traveling on through the hills and valleys of my life. On this journey. This is pathless pathway. Never knowing when the end will come> live this life like a wayfarer journey, like the stranger on his way back home.

Read the quran, the only book where the author is in love with the reader

If you find dust on your quran, then cry for yourself and the condition that you are in.

convey from me even one single word

The first step in knowledge is to listen, then to be quiet and attentive, then to preserve it, then to put it into practice and then to spread it -Sufyan ibn Uyainah.

Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Monday, 13 July 2015

Nasehat pernikahan

Hari-hari awal menikah tidak selalu identik dengan bulan madu, sebagian pengantin baru justru memaknainya sebagai hari-hari silaturahim. Berjumpa dengan orang-orang tersayang, memohonkan doa, saling bertukar cerita dan senyum, saling menyebar hikmah, bukankah hal ini juga membahagiakan diri lahir batin?

Tujuan silaturahim bagi pengantin baru tak lain adalah meminta nasehat dan doa. Bersiap-siap mencari kunci kelulusan untuk menghadapi ujian Allah yang pasti akan datang, karena menikah bukan hanya soal bertukar kebahagiaan namun juga kesedihan, karena menikah bukan hanya membicarakan angan-angan manis tapi juga memikirkan harapan yang tidak tersampaikan. Maka, belajarlah untuk bersiap-siap, semoga menjadi pemudah jalan ketika ujiannya tiba.

Berikut adalah nasehat pernikahan yang semoga dapat membuat kita sama-sama belajar menjalani fase penyempurna ibadah :

1. Nasehat dari KH. Muhammad Arifin Ilham

 

Tazkiyatun nafs

 

Mafatihul barakah (kunci2 keberkahan)

 

 

1. Taqwallahu bihaqqi attaqwa, hadirkan selalu rasa takut kepada Allah, buahnya adalah taqwa kepada Allah, kesungguhan taat. Maksiat pasti sial, kalaupun untung, itu istidroj

 

2. Bifahmil manhajil hayaah. Pahami visi misi kehidupan yang sebentar ini. Sehingga kehidupan kita tidak ada yang sia-sia, semua menjadi ibadah, amal sholeh dan bekal untuk akhirat. Karna persiapan kita utk kehidupan selama-lamanya ini hanya sebentar, padahal menetukan hidup selama lamanya. orientasinya jelas, ridho allah dan selamat di akherat

 

3. Ihyaussunnah bil istiqomah. Itulah kunci-kunci keberkahan, uswahlah kdp nabi muhammad sallallahu alaihi wasallam. Rosul sejak turun surat muzammil tidak pernah tinggalkan tahajjud. Pecinta Allah menikmati kebersamaan di waktu malam, banyak mohon ampun. Sedikit rehat karna menikmati ibadah dan banyak mohon ampun.

 

Cari yg halal utk keberkahan akhirat.

Kenapa keberkahan? Karna ia adalah ziyadatul khoir,

 

Salaamun hiya hatta mathlail fajr

 

Kunci-kunci keberkahan dikatakan sebagai Pintu-pintu penarik cahaya (al ghazali),

 

sebesar keinsyafanmu sebesar itulah keuntunganmu. Banyak org alim tapi sedikit orang sholih. Mujahadah membangun ketaatan. Walladziina jaahaduu fiinaa.. (Al ankabut 69). Kalau ia istiqomah dalam ihyaussunah, ia akan barokah.

 

4. Perhebat doa disertai husnudzon dan tawakkal yg maksimal. Semakin mengenal Allah, semakin kuat imannya, semakin banyak doa. Tidak ada yang lepas dalam tatapan Allah.

 

2. Nasehat dari KH. Mahrus Amin, pimpinan pondok Darunnajah.

 

Karena hidup sangat singkat, mulailah memikirkan hal-hal yang memastikanmu mendapatkan aliran pahala ketika dirimu wafat. Memang, ada 3 hal yang semua orang sudah tahu menjadi penyebab tidak terputusnya pahala bagi mayit yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak solih yang mendoakan orang tuanya. Namun, saya menambahkannya menjadi 6 amalan pengalir pahala, yaitu sebagai berikut:

1. Ciptakan kaderisasi beramal baik, baik di bidang ilmu, leadership, dll.

2. Bangun irigasi, seperti sungai, dll.

3. Bangun MCK, seperti WC, dll.

4. Sebarkan mushaf gratis.

5. Bangun masjid.

6. Jadikan anakmu, anak-anak yang salih.

 

Lalu bagaimana cara mendapat ma’unah atau pertolongan Allah?

1. Merapat dengan masjid.

2. Jangan iri hati.

3. Saling mencintai.

4. Saling memaafkan.

5. Bangun malam.

 

3. Nasehat dari Ust. Muhibbin

 

Menikah itu bukan soal manis, tapi juga pahit maka salinglah kalian berlatih sabar. Jangan menganggap diri sendiri yang paling benar, namun berlombalah kalian menjadi orang yang salah. Jadi kata yang keluar bukan

SUAMI : aku yang benar

ISTRI : nggak, pokoknya aku selalu benar.

 

Tapi justru

SUAMI : aku kok yang salah

ISTRI : nggak, ini memang salahku.

 

4. Nasehat dari Ust. Agus Sugianto

 

Sabar, setiap pernikahan itu butuh kesabaran dari suami dan istri jika belum punya anak. Namun ketika nanti sudah punya anak, kalian harus mengajarkan mereka arti kesabaran. Harus saling sayang dan jujur satu sama lain, tidak ada yang disembunyikan.

 

Thursday, 4 June 2015

Ridha vs Cinta


Banyak perempuan bertanya “bagaimana bisa kamu menikah dengan seseorang yang belum atau bahkan tidak kamu cintai?”


Aku pun menjawab “bahwa cinta akan datang tanpa izin mengetuk, bahwa cinta akan merangkulmu tanpa dipinta, bahwa ia akan hadir walau dalam diam. Karena aku percaya, Allah tidak akan menyianyiakan niat hambaNya yang ingin melengkapi sunnah.”


Menikah adalah impian para pejatuh hati, lalu bagaimana dengan mereka yang belum dititipkanNya cinta?


Tahukah jika yang harus kamu cintai adalah suamimu, bukan ‘calon’ suamimu. Karena tidak ada yang bisa menjamin, apakah calon suamimu adalah takdir imammu. Karena nasi yang sudah dimulut pun masih bisa jatuh jika bukan rezekimu. Mempelajari eksistensi rezeki dalam Al-quran bukanlah hal mudah, bersyukurlah menjadi hamba terpilih yang mampu memahaminya, karena hikmah setiap fenomena hidupnya melebur dan menyatu ke dalam diri yang penuh kesyukuran. Tanpa rasa suudzhon terhadap Pencipta, tanpa rasa kecewa untukNya meski bencana datang merubuhkan asa.


Dear shalihat, jangan takut. Menikah bukan perlu dibangun dengan cinta, ia terwujud karena sebuah mantra ‘ridha’.


Duhai engkau yang akan mengalami masa, rasakanlah getaran ridha yang bahkan tidak bisa terucap kata. Bangun solat istakharahmu, jalin hubungan terbaik dengan Sang Raja Ridha. Bagaimana bisa kamu berharap perjalanan ini mudah dilalui tanpa berusaha mendekatiNya? Lihatlah kamu yang memandang Allah, begitulah Allah memandangmu. Seberapa besar kamu menyimpan kerinduanmu bertemu Allah, sebegitu besar pula Allah merindukanmu.


 “Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).


Lalu bagaimana denganmu yang ‘katanya’ belum siap materi?


Dear Khadijah dunia, janganlah kamu ragu dengan ketetapan Allah. Ragukanlah keraguanmu kemudian percayalah akan janjiNya yang nyata. Bahwa rezeki untukmu dari Sang Pemberi Rezeki, bukan siapapun. Sekali lagi, Allah tidak mungkin menyianyiakan hambaNya yang berniat untuk melengkapi separuh agamanya. Karena menikah adalah sunnah para Nabi dan Rasul. Karenanya terjaga kehormatan dan merupakan benteng akhlak yang mulia. Sebab menikah ialah sumber pertolongan Allah dan rahmatNya. Dan dari menikah, benih perhiasan terindah dunia mulai tertanam. Apalagi yang engkau ragukan? Sekali-kali benar, menikah adalah salah satu jalan untuk menjadikan seseorang menjadi cukup kebutuhannya.


 Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An Nahl (16):72).


Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 32)


Dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang diberi rizki oleh Allah SWT seorang istri shalihah berarti telah dibantu oleh Allah SWT pada separuh agamanya. Maka dia tinggal menyempurnakan separuh sisanya. (HR. Thabarani dan Al-Hakim 2/161).


“Maukah kuberi tahu pada kalian harta simpanan terbaik bagi seseorang? Itulah seorang istri shalehah yang menyenangkan bila dipandang (suaminya), yang patuh jika disuruh, dan pandai menjaga diri sewaktu suaminya pergi” (HR. Abu Daud, Hakim, dan Baihaqi) 


Ada tiga golongan yang sudah pasti akan ditolong Allah, yaitu: (1) Orang yang menikah dengan maksud untuk menjaga kehormatan diri, (2) seorang hamba mukatab yang berniat akan menunaikan, dan (3) seorang yang berperang di jalan Allah” (Riwayat Ahmad, Nasa’i, Tarmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).


Lalu, apa lagi masalahmu?


Mungkin ada yang pernah mengalami siatuasi begini, ketika seorang Ayah menyampaikan  potongan ayat Alqur’an tentang pernikahan, surat Ar.Ruum ayat 21 yang berbunyi: “litaskunuu ilaiha atau supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya”, sontak si anak berkata “bagaimana aku bisa tentram jika sebelum menikah saja tidak ada rasa tentram atau sakinah dengan si calon pasangan?”


Tahukah bahwa perkataan si anak adalah titik kesalahan? Ayat itu menjelaskan tentang tujuan pernikahan, bukan panduan menuju pernikahan. Ayat itu menyebut kata ‘istri’ dahulu kemudian menggandengnya dengan rasa tentram lagi kasih sayang, bukan calon istri atau sebaliknya. Jadi, kunci menggapai sakinah itu apa? Akadlah jawabannya.



“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar. Ruum (30):21).


Kemudian, apa lagi gundahmu?


Sahabat fillah, bakar habis ragu itu. Mari mulai meyakini kuasaNya. In sha Allah, keridhoanmu menuju pernikahan akan tiba pada saat yang paling tepat. Saat engkau benar-benar siap dihadapanNya untuk mengemban ikatan yang disebut di dalam Al-qur’an sebagai “mitsaqan ghaliza” atau perjanjian yang amat kukuh (QS An-Nisa 4:21). Seberat dan sekokoh apakah ikatan pernikahan? Semoga penulis masih diberi kesempatan untuk membahasnya di lain waktu.


Wahai para pecinta, ridha memang belum pasti cinta namun kekuatannya melebihi kekuatan cinta, karena ridha datang dari hati tulusmu bukan dari hawa nafsumu. Sebab keagungan cinta bermula dari keikhalasan ridha, bukan yang lainnya.


Dan kamu bisa temukan cinta dalam ridhamu dan ridhaNya, namun kamu belum tentu bisa temukan ridhamu dan ridhaNya dalam cinta. Jadi, cinta atau ridha yang kamu pilih?